artikel | INDAHNYA SALING BERBAGI
Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Saturday, November 23, 2013

Kitab Fiqih Muhammadiyah Karya KH Ahmad Dahlan


GURU DAN AMALIAH KH. AHMAD DAHLAN (MUHAMMADIYYAH) DAN KH. HASYIM AS’ARI (NU) ADALAH SAMA TIADA PERBEDAAN


Kitab Fiqih Muhammadiyah Karya KH Ahmad Dahlan
Tulisan kali ini hendak mempertegas tulisan kami yang telah lalu berjudul “Sejarah Awal Muhammadiyah yang Terlupakan”, dimana banyak dari kita belum tahu atau sengaja melupakan sejarah awal Muhammadiyyah.

Secara ringkas kami katakan bahwa, KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyyah pada 18 November 1912/8 Dzull Hijjah 1330) dengan KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU pada 31 Januari 1926/16 Rajab 1344) adalah satu sumber guru dengan amaliah ubudiyah yang sama. Bahkan keduanya pun sama-sama satu nasab dari Maulana ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri).


Berikut kami kutip kembali ringkasan “Kitab Fiqih Muhammadiyyah”, penerbit Muhammadiyyah Bagian Taman Poestaka Jogjakarta, jilid III, diterbitkan tahun 1343 H/1925 M, dimana hal ini membuktikan bahwa amaliah kedua ulama besar di atas tidak berbeda:

1. Niat shalat memakai bacaan lafadz: “Ushalli Fardha...” (halaman 25).
2. Setelah takbir membaca: “Allahu Akbar Kabiran Walhamdulillahi Katsira...” (halaman 25).
3. Membaca surat al-Fatihah memakai bacaan: “Bismillahirrahmanirrahim” (halaman 26).
4. Setiap shalat Shubuh membaca doa Qunut (halaman 27).
5. Membaca shalawat dengan memakai kata: “Sayyidina”, baik di luar maupun dalam shalat (halaman 29).
6. Setelah shalat disunnahkan membaca wiridan: “Istighfar, Allahumma Antassalam, Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, Allahu Akbar 33x” (halaman 40-42).
7. Shalat Tarawih 20 rakaat, tiap 2 rakaat 1 salam (halaman 49-50).
8. Tentang shalat & khutbah Jum’at juga sama dengan amaliah NU (halaman 57-60).

KH. Ahmad Dahlan sebelum menunaikan ibadah haji ke tanah suci bernama Muhammad Darwis. Seusai menunaikan ibadah haji, nama beliau diganti dengan Ahmad Dahlan oleh salah satu gurunya, as-Sayyid Abubakar Syatha ad-Dimyathi, ulama besar yang bermadzhab Syafi’i.

Jauh sebelum menunaikan ibadah haji, dan belajar mendalami ilmu agama, KH. Ahmad Dahlan telah belajar agama kepada asy-Syaikh KH. Shaleh Darat Semarang. KH. Shaleh Darat adalah ulama besar yang telah bertahun-tahun belajar dan mengajar di Masjidil Haram Makkah.


Di pesantren milik KH. Murtadha (sang mertua), KH. Shaleh Darat mengajar santri-santrinya ilmu agama, seperti kitab al-Hikam, al-Munjiyyat karya beliau sendiri, Lathaif ath-Thaharah, serta beragam ilmu agama lainnya. Di pesantren ini, Mohammad Darwis ditemukan dengan Hasyim Asy’ari. Keduanya sama-sama mendalami ilmu agama dari ulama besar Syaikh Shaleh Darat.

Waktu itu, Muhammad Darwis berusia 16 tahun, sementara Hasyim Asy’ari berusia 14 tahun. Keduanya tinggal satu kamar di pesantren yang dipimpin oleh Syaikh Shaleh Darat Semarang tersebut. Sekitar 2 tahunan kedua santri tersebut hidup bersama di kamar yang sama, pesantren yang sama dan guru yang sama.


Dalam keseharian, Muhammad Darwis memanggil Hasyim Asy’ari dengan panggilan “Adik Hasyim”. Sementara Hasyim Asy’ari memanggil Muhammad Darwis dengan panggilan “Mas atau Kang Darwis”.

Selepas nyantri di pesantren Syaikh Shaleh Darat, keduanya mendalami ilmu agama di Makkah, dimana sang guru pernah menimba ilmu bertahun-tahun lamanya di Tanah Suci itu. Tentu saja, sang guru sudah membekali akidah dan ilmu fikih yang cukup. Sekaligus telah memberikan referensi ulama-ulama mana yang harus didatangi dan diserap ilmunya selama di Makkah.

Puluhan ulama-ulama Makkah waktu itu berdarah Nusantara. Praktek ibadah waktu itu seperti wiridan, tahlilan, manaqiban, maulidan dan lainnya sudah menjadi bagian dari kehidupan ulama-ulama Nusantara. Hampir semua karya-karya Syaikh Muhammad Yasin al-Faddani, Syaikh Muhammad Mahfudz at-Turmusi dan Syaikh Khaathib as-Sambasi menuliskan tentang madzhab Syafi’i dan Asy’ariyyah sebagai akidahnya. Tentu saja, itu pula yang diajarkan kepada murid-muridnya, seperti KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, Syaikh Abdul Qadir Mandailing dan selainnya.


Seusai pulang dari Makkah, masing-masing mengamalkan ilmu yang telah diperoleh dari guru-gurunya di Makkah. Muhammad Darwis yang telah diubah namanya menjadi Ahmad Dahlan mendirikan persarikatan Muhammadiyyah. Sedangkan Hasyim Asy’ari mendirikan NU (Nahdlatul Ulama). Begitulah persaudaraan sejati yang dibangun sejak menjadi santri Syaikh Shaleh Darat hingga menjadi santri di Tanah Suci Makkah. Keduanya juga membuktikan, kalau dirinya tidak ada perbedaan di dalam urusan akidah dan madzhabnya.


Saat itu di Makkah memang mayoritas bermadzhab Syafi’i dan berakidahkan Asy’ari. Wajar, jika praktek ibadah sehari-hari KH. Ahmad Dahlan persis dengan guru-gurunya di Tanah Suci. Seperti yang sudah dikutipkan di awal tulisan, semisal shalat Shubuh KH. Ahmad Dahan tetap menggunakan Qunut, dan tidak pernah berpendapat bahwa Qunut sholat subuh Nabi Muhammad Saw adalah Qunut Nazilah. Karena beliau sangat memahami ilmu hadits dan juga memahami ilmu fikih.

Begitupula Tarawihnya, KH. Ahmad Dahlan praktek shalat Tarawihnya 20 rakaat. Penduduk Makkah sejak berabad-abad lamanya, sejak masa Khalifah Umar bin Khattab Ra., telah menjalankan Tarawih 20 rakaat dengan 3 witir, sehingga sekarang. Jumlah ini telah disepakati oleh sahabat-sahabat Nabi Saw. Bagi penduduk Makkah, Tarawih 20 rakaat merupakan ijma’ (konsensus kesepakatan) para sahabat Nabi Saw.


Sedangkan penduduk Madinah melaksanakan Tarawih dengan 36 rakaat. Penduduk Makkah setiap pelaksanaan Tarawih 2 kali salaman, semua beristirahat. Pada waktu istirahat, mereka mengisi dengan thawaf sunnah. Nyaris pelaksanaan shalat Tarawih hingga malam, bahkan menjelang Shubuh. Di sela-sela Tarawih itulah keuntungan penduduk Makkah, karena bisa menambah pahala ibadah dengan thawaf. Maka bagi penduduk Madinah untuk mengimbangi pahala dengan yang di Makkah, mereka melaksanakan Tarawih dengan jumlah lebih banyak.


Jadi, baik KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari tidak pernah ada perbedaan di dalam pelaksanaan ubudiyah. Ketua PP. Muhammdiyah, Yunahar Ilyas pernah menuturkan: “KH. Ahmad Dahlan pada masa hidupnya banyak menganut fiqh madzhab Syafi’i, termasuk mengamalkan Qunut dalam shalat Shubuh dan shalat Tarawih 23 rakaat. Namun, setelah berdirinya Majelis Tarjih pada masa kepemimpinan KH. Mas Manshur, terjadilah revisi-revisi, termasuk keluarnya Putusan Tarjih yang menuntunkan tidak dipraktekkannya doa Qunut di dalam shalat Shubuh dan jumlah rakaat shalat Tarawih yang sebelas rakaat.”


Sedangkan jawaban enteng yang dikemukan oleh dewan tarjih saat ditanyakan: “Kenapa ubudiyyah (praktek ibadah) Muhammadiyyah yang dulu dengan sekarang berbeda?” Alasan mereka adalah karena “Muhammadiyyah bukan Dahlaniyyah”.

Masihkah diantara kita yang gemar mencela dan mengata-ngatai amaliah-amaliah Ahlussunnah wal Jama’ah Nahdlatul Ulama sebagai amalan bid’ah, musyrik dan sesat?



Thursday, October 31, 2013

Jelang Tahun Baru Hijriyah


tahun baru hijriyah
KEMBALIKAN IMAN DI TAHUN BARU
Oleh : Buya Yahya
Pengasuh LPD Al-Bahjah




Hari demi hari berganti,minggu demi minggupun terlewati,bulan demi bulan kita lalui, tidak lama lagi kitapun akan melewati pergantian tahun. Sesaat lagi kita akan memasuki tahun baru 1 Muharram 1435 H. Sadarkah kita bahwa ketika tahun berganti itu artinya usia kita telah bertambah dan disaat itu semakin banyak hal yang akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Alloh SWT. Kita punya segunung amanat yang kita pikul di pundak kita. Amanat sebagai orang tua, amanat sebagai anak, amanat sebagai Ustadz, amanat sebagai pejabat, amanat sebagai orang kaya, dan masih banyak lagi status dan gelar yang kita sandang yang semua itu sebenarnya adalah amanat.

Akhir tahun adalah saat saat yang seharusnya dihadapi dengan sebuah evaluasi, introspeksi dan sadar diri akan masa-masa yang telah lalu. Perubahan apa yang kita alami selama ini. Semakin baikkah kita atau semakin kita terpuruk dan lupa diri? Apakah kita semakin kenal kepada Allah dan Rosul-Nya? Atau semakin terpedaya kita dengan hawa nafsu kita? Betapa banyak kita telah lewati umur untuk hal hal yang tidak berguna. Alangkah seringnya kita melanggar larangan Alloh dan Rosul-Nya.

Sadarkah kita yang telah butakan mata hati dari yang haq kita tulikan telinga kita dari kebenaran, kita terpesona oleh tahta dan harta. Kita jerumuskan putra putri kita pada sarana sarana kehancuran dan kebobrokan moral dari media informasi dan hiburan yang tidak kita kontrol. Dan masih banyak hal lagi dengan aneka ragam kesalahan yang kita lakukan.

Awal tahun hendaknya dihadapi dengan sebuah harapan kepada Allah SWT. Harapan yang terencanakan dan terarah. Ada tujuan yang harus dijelaskan titik bidiknya,yaitu tahun yang akan datang harus lebih baik dari tahun yang sekarang. Iman harus semakin bertambah, akhlaq semakin mulia, sahabat dari orang-orang baik semakin banyak, hati bertambah lembut , jiwa semakin bersyukur dan tidak rakus dan hidup semakin mesra dengan sesama dan semakin khusuk kepada Allah SWT.

Tahun baru Hijriah bukan sekedar pergantian tahun akan tetapi ada makna yang terkandung di balik tahun baru hijriah. Tahun baru maknanya kita menuju perubahan seperti hijrahnya Rosululloh SAW adalah menuju sebuah perubahan. Dan tahun baru adalah iman karena kelalaian kita kepada tahun baru hijriah menjadikan syi'ar hamba-hamba yang tidak beriman marak terangkat dengan budaya tahun baru masehi yang diwarnai dengan bermacam-macam kemaksiatan.

Mari kita kita cermati sinar keimanan dengan membaca wajah-wajah kita di tahun baru Hijriyah. Lihatlah wajah-wajah itu disaat menyambut tahun baru Hijriyah. Adakah wajah wajah itu adalah yang berbinar dan berseri-seri dengan tahun baru Hijriyah tanda adanya sebuah jalinan tersembunyi di dalam kalbunya dengan Rasulullah sang pelaku sejarah hijrah, tanda ada kebanggaan di dalam hatinya kepada Islam.

Sungguh yang amat kita khawatirkan adalah jika ternyata wajah kita adalah wajah yang suram dengan tahun baru Hijriyah dan giliran kedatangan tahun baru masehi ternyata wajah-wajah kita dan anak kita adalah wajah yang berbangga akan kedatanganya, hingga kita rela berkorban harta, waktu, dan tenaga hanya untuk menanti pukul 00.00 di tahun baru masehi.

Pernahkah kita sadar dan berfikir disaat kita dan anak-anak kita ikut-ikutan mengagungkan syi'arnya hamba yang tidak beriman. Relakah kita saat merayakan tahun baru masehi tiba-tiba nyawa kita dan anak-anak kita dicabut. Artinya mati di saat berbangga dengan budaya orang yang tidak kenal Rasulullah SAW. Sungguh itulah kematian yang sia-sia, mati dalam sejelek-jeleknya kematian, mati dengan su’ul khotimah.

Pergeseran nilai keimanan amatlah halus,tanpa disadari tiba-tiba seseorang telah berada di luar wilayah iman. Mulai dari berbangga dengan budaya dan tradisi orang-orang yang tidak beriman tiba-tiba suatu saat pada akhirnya tanpa disadari sebuah hati telah mati kekagumanya kepada nilai-nilai Islam. Malu dengan semua yang berlebel Islam, merasa minder dengan budaya Islam dan itulah tercabutnya Iman.

Dan di tahun ini, akankah kita biarkan diri kita dan anak-anak kita hanyut dalam tradisi tahun baru masehi hingga pada akhirnya nanti anak-anak kita akan hanyut dalam suasana bangga kepada selain Islam ? Sungguh Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa "Siapapun yang berbangga kepada selain Islam ia akan dibangkitkan nanti bersama yang dibanggakan".

Kita punya tahun baru yang perlu kita banggakan, tahun baru hijriyah. Jadikanlah tahun baru hijriyah adalah tahun introspeksi, tahun perubahan, tahun mengagungkan syi'ar Islam, tahun memupuk kebanggaan dan kekaguman pada Islam, tahun memperbaharui jalinan dan cinta kita kepada Rasulullah SAW. Dengan harapan kelak kita bisa dibangkitkan lalu dikumpulkan di surga bersama Rasulullah SAW.

Inilah renungan singkat di tahun baru Hijriyah untuk menggapai hari esok yang lebih bermakna, penuh dengan rahmat dan ridho Allah SWT. Wallahu A'lam Bishshowab

Sumber : Facebook

Thursday, July 4, 2013

Pendapat Sholat Tarawih Menurut Ulama 4 Madzhab


sholat tarawih, hukum, dalil
1. Imam An-Nawawi menyebutkan dalam Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab :

صَلاَةُ التَّرَاوِيْحِ مِنَ النَّوَافِلِ الْمُؤَكَّدَةِ كَمَا دَلَّتْ عَلَى ذَلِكَ اْلأَحَادِيْثُ الشَّرِيْفَةُ الْمُتَقَدِّمَةُ وَهِيَ عِشْرُوْنَ رَكْعَةً مِنْ غَيْرِ صَلاَةِ الْوِتْرِ، وَمَعَ الْوِتْرِ تُصْبِحَ ثَلاَثًا وَعِشْرِيْنَ رَكْعَةً … عَلَى ذَلِكَ مَضَتِ السُّنَّةُ وَاتَّفَقَتِ اْلأُمَّةُ، سَلَفًا وَخَلَفًا مِنْ عَهْدِ الْخَلِيْفَةِ الرَّاشِدِ ” عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ” رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ – إِلى زَمَانِنَا هَذَا … لَمْ يُخَالِفْ فِيْ ذَلِكَ فَقِيْهٌ مِنَ اْلأَئِمَّةِ اْلأَرْبَعَةِ الْمُجْتَهِدِيْنَ إِلاَّ مَا رُوِيَ عَنْ إِمَامِ دَارِ الْهِجْرَةِ”مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ ” – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – اَلْقَوْلُ بِالزِّيَادَةِ فِيْهَا ، إِلَى سِتٍّ وَثَلاَثِيْنَ رَكْعَةً فِي الرِّوَايَةِ الثَّانِيَةِ عَنْهُ – مُحْتَجًّا بِعَمَلِ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ فَقَدْ رُوِيَ عَنْ ناَفِعٍ أَنَّهُ قَالَ : ” أَدْرَكْتُ النَّاسَ يَقُوْمُوْنَ رَمَضَانَ بِتِسْعٍ وَثَلاَثِيْنَ رَكْعَةً يُوْتِرُوْنَ مِنْهَا بِثَلاَثٍ ” … أَمَّا الرِّوَايَةُ الْمَشْهُوْرَةُ عَنْهُ، هِيَ الَّتِيْ وَافَقَ فِيْهَا الْجُمْهُوْرُ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ عَلَى أَنَّهَا ” 20 “عِشْرُوْنَ رَكْعَةً وَعَلَى ذَلِكَ اِتَّفَقَتِ الْمَذَاهِبُ اْلأَرْبَعَةُ وَتَمَّ اْلإِجْمَاعُ

Mari kita kembali kepada Syaikhul Madzhab, Imam di dalam Madzhab Imam Syafi’i, Imam besar yaitu Imam An-Nawawi, Imam An-Nawawi sudah menjelaskan dalam kitab Syarah Muhadzdzab-nya, bahwasannya :
Shalat Taraweh adalah satu Shalat sunnah yang sangat dikukuhkan sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits-hadits yaitu “20” (dua puluh rokaat) selain Witir dan jika ditambah dengan 3 rokaat Witir maka jadilah 23 rokaat. Oleh karena itu Ummat telah sepakat baik Salaf maupun Kholaf dari zaman Kholifah Ar-Rosyidin yaitu Sayyidina Umar bin Khaththab ra sampai zaman sekarang tidak ada satu Ulama pun yang berbeda dari para Imam Madzhab yang 4 kecuali yang diriwayatkan dari Imam Malik bin Anas yang mengatakan hingga 36 rokaat dengan hujjah pengamalan penduduk Madinah. Dan telah diriwayatkan dari Nafi’ beliau berkata : Aku melihat orang-orang di bulan Ramadhan Shalat (Taraweh) 39 rokaat dengan Witir 3 rokaat. . . . Namun riwayat yang masyhur dari Imam Malik adalah yang senada dengan pendapat jumhur dari kalangan Ulama Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah yaitu 20 rokaat, maka dari itu Ulama 4 madzhab sudah sepakat dan telah sempurna menjadi Sebuah Ijma’ (Kesepakatan Ulama) bahwa sholat taraweh adalah 20 rokaat”.
Imam An-Nawawi juga menyebutkan dalam kitab tersebut:

” مَذْهَبُنَا أَنَّهَا عِشْرُوْنَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيْمَاتٍ غَيْرَ الْوِتْرِ وَذَلِكَ خَمْسُ تَرْوِيْحَاتٍ وَالتَّرْوِيْحَةُ أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ بِتَسْلِيْمَتَيْنِ “.وَبِهِ قَالَ أَبُوْ حَنِيْفَةَ وَأَصْحَابُهُ وَ أَحْمَدُ وَدَاوُدَ وَغَيْرُهُمْ وَنَقَلَهُ الْقَاضِيْ عِيَاضُ عَنْ جُمْهُوْرِ الْعُلَمَاءِ. وَقَالَ مَالِكٌ: التَّرَاوِيْحُ تِسْعُ تَرْوِيْحَاتٍ وَهِيَ سِتَّةٌ وَثَلاَثِيْنَ رَكْعَةً غَيْرُ الْوِتْرِ.

“Madzhab kami (Syafi’i) Shalat Taraweh adalah 20 rokaat dengan 10 salam selain Witir dan itu 10 istirahatan, 1 tarwihan 4 rokaat dengan 2 kali salam dan ini yang dikatakan oleh Imam Abu Hanifah dan Ashabnya, Imam Ahmad, Dawud dan Qodi Iyadh menukilnya dari jumhur Ulama. Imam Malik berkata: Taraweh itu 9 istirahatan dan jumlahnya 36 rokaat”.
Imam An-Nawawi menyebutkan dalam kitab Al-Khulashoh sanad hadits tersebut Shohih, begitu juga Imam Khotib Asy-Syirbini Asy-Syafi’i menyebutkan dalam kitab Syarh Al-Minhaj hal. 226 :
“Shalat Taraweh itu 20 rokaat dengan 10 kali salam pada setiap malam bulan Ramadhan berdasarkan hadits riwayat Imam Al-Baihaqi dengan sanad yang Shohih yaitu : “Sesungguhnya mereka (para Sahabat Nabi) melakukan Shalat Taraweh 20 rokaat di bulan Ramadhan pada masa Sayyidina Umar Bin Khaththab ra”.
2. Disebutkan dalam Mukhtashor Muzani bahwa Imam Syafi’i berkata :

” رَأَيْتُهُمْ بِالْمَدِيْنَةِ يَقُوْمُوْنَ بِتِسْعٍ وَثَلاَثِيْنَ وَاَحَبُّ إِلَيَّ عِشْرُوْنَ لِأَنَّهُ رُوِيَ عَنْ عُمَرَ وَكَذَلِكَ بِمَكَّةَ يَقُوْمُوْنَ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً يُوْتِرُوْنَ بِثَلاَثٍ”.

“Aku melihat penduduk Madinah Shalat Taraweh 36 rokaat, dan aku lebih senang 20 rokaat karena itu diriwayatkan dari Sayyidina Umar ra begitu juga di Makkah 20 rokaat ditambah Witir 3 rokaat”.
3. Ibnu Qudamah pakar Fiqih dalam Madzhab Hanbali yang sangat masyhur menyebutkan dalam kitab Al-Mughni juz 1 hal. 457 :

وَالْمُخْتَارُ عِنْدَ أَبِيْ عَبْدِ الله ِ( يَعْنِيْ اْلإِمَامِ أَحْمَدَ ) رَحِمَهُ اللهُ ، فِيْهَا عِشْرُوْنَ رَكْعَةً ، وَبِهَذَا قَالَ الثَّوْرِيْ ، وَأَبُوْ حَنِيْفَةَ ، وَالشَّافِعِيُّ ، وَقَالَ مَالِكُ : سِتَّةٌ وَثَلاَثُوْنَ.

“Yang dipilih menurut Abi Abdillah, yang dimaksud di sini adalah Imam Ahmad Bin Hanbal, “20 rokaat” begitu juga pendapat Imam Tsauri, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Malik mengatakan: tiga puluh enam rokaat”.
4. Imam As-Sarkhosi Al-Hanafi menyebutkan dalam kitab Al-Mabsuth juz 2 hal. 45 :

فَإِنَّهَا عِشْرُوْنَ رَكْعَةً سِوَى الْوِتْرِ عِنْدَنَا
“Menurut kami Shalat Taraweh itu 20 rokaat selain Witir”.
5. Imam Al-Hashkafi Al-Hanafi menyebutkan dalam dalam kitab Ad-Durrul Mukhtar :

وَهِيَ عِشْرُوْنَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيْمَاتٍ.اهـ
“Taraweh adalah dua puluh rokaat dengan sepuluh salam”.
6. Ibnu Abidin Al-Hanafi mengomentari perkataan Imam Al-Haskafi :

وَهِيَ عِشْرُوْنَ رَكْعَةً هُوَ قَوْلُ الْجُمْهُوْرِ وَعَلَيْهِ عَمَلُ النَّاسِ شَرْقًا وَغَرْبًا.اهــ
“20 rokaat Itu pendapat jumhur dan dilakukan oleh manusia dari bumi belahan timur sampai bumi belahan barat ”.
7. Al-Allamah Muhammad Ulaisy Al-Maliki pakar Fiqih dalam Madzhab Maliki mengatakan dalam kitab Minahul Jalil Ala Mukhtasor Kholil :

وَهِيَ ثَلاَثُ وَعِشْرُوْنَ رَكْعَةً بِالشَّفْعِ وَالْوِتْرُ وَهَذَا الَّذِيْ جَرَى بِهِ عَمَلُ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ ثُمَّ جُعِلَتْ … فِيْ زَمَنِ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيْزِ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ بَعْدَ وَقْعَةِ الْحُرَّةِ بِالْمَدِيْنَةِ الْمُنَوَّرَةِ، فَخَفَّفُوْا فِي الْقِيَامِ وَزَادُوْا فِي الْعَدَدِ لِسُهُوْلَتِهِ فَصَارَتْ تِسْعًا وَثَلاَثِيْنَ) باِلشَّفْعِ وَالْوِتْرِ كَمَا فِيْ بَعْضِ النُّسْخِ، وَفِيْ بَعْضِهَا سِتَّا وَثَلاَثِيْنَ رَكْعَةً غَيْرَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ، وَاسْتَقَرَّ الْعَمَلُ عَلَى اْلأَوَّلِ.اهـ
“Shalat Taraweh itu 20 rokaat ditambah Witir, dan ini yang sudah dilakukan oleh para Sahabat dan Tabi’in kemudian di zaman Sayyidina Umar bin Abdul Aziz setelah terjadi pembantaian di Madinah dengan meringankan berdiri dan menambah bilangan menjadi 39 (sudah termasuk Witir di dalamnya) sebagaimana disebutkan dalam sebagian redaksi, sedangkan dalam redaksi yang lain Shalat Taraweh adalah 36 rokaat selain Witir akan tetapi yang kuat adalah pendapat yang pertama”.

8. Ibnu Rusydi pakar Fiqih dalam Madzhab Maliki mengatakan dalam kitab Bidayatul Mujtahid:
” اِخْتَارَ مَالِكٌ – فِيْ أَحَدِ قَوْلَيْهِ – وَأَبُوْ حَنِيْفَةَ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ الْقِيَامَ بِعِشْرِيْنَ رَكْعَةً سِوَى الْوِتْرِ”.
“Imam Malik telah memilih dalam salah satu pendapatnya, dan juga Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bahwa Taraweh adalah 20 rokaat selain Witir”.

9. Imam At-Tirmidzi menyebutkan dalam Sunannya juz 3 hal 169 :
“وَأَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ عَلَى مَا رُوِيَ عَنْ عُمَرَ وَعَلِيٍّ وَغَيْرِهِمَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِشْرِينَ رَكْعَةً وَهُوَ قَوْلُ الثَّوْرِيِّ وَابْنِ الْمُبَارَكِ وَالشَّافِعِيِّ . وقَالَ الشَّافِعِيُّ وَهَكَذَا أَدْرَكْتُ بِبَلَدِنَا بِمَكَّةَ يُصَلُّونَ عِشْرِينَ رَكْعَةً .

“Mayoritas ahli ilmu sebagaimana yang diriwayatkan dari Sahabat Umar adalah 20 rokaat dan ini adalah pendapatnya Imam Ats-Tsauri, Ibnu Mubarok dan Imam Syafi’i. Berkata Imam Syafi’i : Beginilah aku melihat di negaraku Makkah Shalat Taraweh adalah 20 rokaat”.

10. Imam Al-‘Aini menyebutkan dalam kitabnya Umdatul Qori Syarh Shohih Al-Bukhari :
عَنْ زَيْدٍ بْنِ وَهْبٍ قَالَ: ” كَانَ عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْعُوْدٍ يُصَلِّيْ لَنَا فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ فَيَنْصَرِفُ وَعَلَيْهِ لَيْلٌ” قَالَ اْلاَعْمَشُ : كَانَ يُصَلِّيْ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً وَيُوْتِرُ بِثَلاَثٍ “
Dari Zaid Bin Wahb beliau berkata : “Dahulu Sayyidina Abdullah Bin Mas’ud Shalat (Taraweh) bersama kami pada bulan Ramadhan, kemudian beliau bubar (pergi) akan tetapi beliau pada satu malam, dikatakan oleh Al-A’masy bahwa : Sayyidina Abdullah melakukan Shalat Taraweh 20 rokaat dan Shalat Witir 3 rokaat”.
Hadits ini dinilai Shohih oleh Imam An-Nawawi dalam kitabnya Majmu’ Syarh Muhadzdzab, begitu juga Imam Al-‘Aini ketika mensyarahi kitab Shohih Al-Bukhari, kemudian Imam As-Subuki dalam kitabnya Syarh Al-Minhaj, Imam Zainuddin Al-Iraqi dalam kitabnya Syarh At-Taqrib, Imam Al-Qostholani ketika mensyarahi kitab Shohih Al-Bukhari, dan Imam Al-Kamal Bin Al-Humam ketika mensyarahi kitab Al-Hidayah.

11. Imam Ibnu Al-Humam Al-Hanafi berkata :
ثَبَتَتِ الْعِشْرُوْنَ فِيْ زَمَنِ عُمَرَ وَالْمَشْهُوْرُ فِيْ مَذْهَبِ اْلإِمَامِ مَالِكٍ أَنَّهَا عِشْرُوْنَ رَكْعَةً كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ الشَّيْخُ الدَّرْدِيْرُ فِيْ كِتَابِ أَقْرَبُ الْمَسَالِكِ عَلَى مَذْهَبِ اْلإِمَامِ مَالِكٍ.
“Telah ditetapkan (Shalat Taraweh itu) 2o rokaat pada masa Sayyidina Umar ra, sedangkan yang masyhur dalam Madzhab Imam Malik sesungguhnya Shalat Taraweh itu 2o rokaat sebagaimana yang disebutkan oleh Syeikh Ad-Dardir dalam kitab Aqrab Al-Masalik ‘Ala Madzhab Al-Imam Malik.
12. Ibnu Taymiyah menyebutkan dalam kitabnya Majmu’ Fatawa juz 23 hal. 112 :

“ثَبَتَ أَنَّ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ كَانَ يَقُوْمُ بِالنَّاسِ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً فِيْ قِيَامِ رَمَضَانَ، وَيُوْتِرُ بِثَلاَثٍ، فَرَأَى كَثِيْرٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ أَنَّ ذَلِكَ هُوَ السُّنَّةُ ؛ لِأَنَّهُ أَقَامَهُ بَيْنَ الْمُهَاجِرِيْنَ وَاْلاَنْصَارِ وَلَمْ يُنْكُرْهُ مُنْكِرٌ، وَاسْتَحَبَّ آخَرُوْنَ تِسْعَةً وَثَلاَثِيْنَ رَكْعَةً ، بِنَاءً عَلَى أَنَّهُ عَمَلُ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ الْقَدِيْمِ
 ” .
“Telah menjadi ketetapan bahwa Ubay bin Ka’ab Shalat bersama orang-orang dengan 20 rokaat dalam Taraweh dengan Witir 3 rokaat maka para Ulama berpendapat bahwa itu adalah sunnah karena Sahabat Ubay melakukannya di hadapan kaum Muhajirin dan Anshor dan tidak ada satupun yang mengingkarinya. Bahkan sebagian Ulama mengatakan 39 rokaat karena mengikuti amaliyah penduduk Madinah.
KESIMPULAN
Yang mula-mula harus kita ketahui bahwa Shalat Taraweh (Qiyam Ramadhan) adalah shalat sunnah yang sangat dikukuhkan. Dan Rasulullah SAW sendiri memberi contoh dan menghimbau untuk memperbanyak sholat di malam-malam Ramadhan
Dan jangan sampai ada yang berkata bahwa di bulan Ramadhan Shalat Rasulullah SAW menurun seperti dugaan sebagian orang yang mengatakan taraweh Nabi hanya 8 rokaat dan Shalat Witirnya hanya 3 rokaat saja.
Dan apa yang dilakukan oleh para sahabat nabi tentang sholat taraweh 20 rokaat adalah sesuai dengan himbauan Nabi SAW.
Sayyidina Umar bin Khaththab, Sayyidina Utsman dan Sayyidina Ali serta para sahabat yang lainnya tidak ada yang mengingkari satupun. Tidak ada ingkar itu seperti sudah menjadi kesepakatan (Ijma’) para Ulama-Ulama bahwasannya Shalat Taraweh adalah 20 rokaat.
Maka yang sungguh harus diperhatikan dan dicermati adalah orang-orang yang dengan sengaja menjauhkan hamba-hamba Allah dari memperbanyak Qiyamul lail pada bulan Ramadhan khususnya dalam Shalat Taraweh yaitu mereka yang beranggapan bahwa Shalat Taraweh 20 rokaat adalah Bid’ah.
Maka dari itu kami menghimbau kepada pengurus Masjid yang di Masjidnya sudah didirikan Shalat Taraweh 20 rokaat agar terus dipertahankan dan jangan sampai berubah. Dan jika ada masjid yang sudah berubah menjadi 8 rokaat agar segera dikembalikan ke 20 rokaat demi meningkatkan ibadah kaum muslimin juga dalam rangka juga membiasakan patuh kepada para ulama khususnya ulama 4 madzhab dan lebih khusus lagi Khulafah Ar Rosyidin.
Dan setelah ini semua, kita tidak usah bingung dengan perbedaan yang terjadi dilapangan karena yang berbeda dengan pendapat bahwa sholat taraweh 20 adalah sangat lemah, Akan tetapi ada hal lain yang amat perlu untuk diperhatikan yaitu kebiasaan terburu-buru dalam melaksana-kan Shalat Taraweh serta berbangga diri ketika Shalat Tarawehnya selesai terlebih dahulu. Sehingga tidak jarang karena terlalu cepatnya Shalat Taraweh yang mereka lakukan mengakibatkan ada sebagian kewajiban yang tidak dilaksanakan seperti melaksanakan Ruku`, I`tidal dan Sujud dengan Thuma`ninah atau karena membaca Al-Fatihah dengan sangat cepat sehingga menggugurkan salah satu hurufnya atau menggabungkan dua huruf menjadi satu. Dengan begitu Shalat yang mereka laksanakan menjadi tidak sah yang menyebabkan mereka tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa capek dan dosa.
Sebagaimana Imam An-Nawawi menyebutkan dalam kitab At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’an hal. 89, bahwasannya : “Bagi orang yang sudah bisa membaca Al-Qur’an haram membaca Al-Qur’an dengan Lahn yaitu terlalu panjang dalam membacanya atau terlalu pendek sehingga ada sebagian huruf yang mestinya dibaca panjang malah dibaca pendek, atau membuang harakat pada sebagian lafadznya yang membuat rusak maknanya, bagi yang membaca Al-Qur’an dengan cara demikian adalah haram dan pelakunya dihukumi Fasiq sedangkan bagi yang mendengarnya juga berdosa jika ia mampu mengikatkan atau menghenti-kannya akan tetapi lebih memilih diam dan mengikutinya”.
Maka dari itu harom bagi kita mengikuti imam sholat taraweh yang membaca Al-Qur’an dengan bacaan terburu- buru hingga menghilangkan huruf atau salah harokat Al-Qur’an yang dibacanya
Wallahui a’lam bisshowab

Oleh: Buya Yahya (Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah Al-Bahjah Cirebon)
Link terkait :Binaswaja

Wednesday, June 19, 2013

Keutamaan Malam Nisfu Sya'ban


Keutamaan Malam Nisfu Sya'ban, amalan malam nisfu sya'ban
Nisfu Sya’ban adalah hari peringatan Islam yang jatuh pada pertengahan bulan Sya’ban. Dalam kalangan Islam, Nisfu Sya’ban diperingati menjelang bulan Ramadhan. Pada malam ini biasanya diisi dengan pembacaan Surat Yaasiin tiga kali berjamaah dengan niat semoga diberi umur panjang, diberi rizki yang banyak dan barokah, serta ditetapkan imannya.

Peringatan Nisfu Sya’ban tidak hanya dilakukan di Indonesia saja. Al-Azhar sebagai yayasan pendidikan tertua di Mesir bahkan di seluruh dunia selalu memperingati malam yang sangat mulia ini. Hal ini karena diyakini pada malam tersebut Allah akan memberikan keputusan tentang nasib seseorang selama setahun ke depan. Keutamaan malam nisfu Sya’ban diterangkan secara jelas dalam kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali.

Imam Ghazali mengistilahkan malam Nisfu Sya’ban sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan). Menurut al-Ghazali, pada malam ke-13 bulan Sya’ban Allah SWT memberikan seperti tiga syafaat kepada hambanya. Sedangkan pada malam ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. Dengan demikian, pada malam ke-15, umat Islam dapat memiliki banyak sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun. Karepa pada malam ke-15 bulan Sya’ban inilah, catatan perbuatan manusia penghuni bumi akan dinaikkan ke hadapan Allah SWT.


Para ulama menyatakan bahwa Nisfu Sya’ban juga dinamakan sebagai malam pengampunan atau malam maghfirah, karena pada malam itu Allah SWT menurunkan pengampunan kepada seluruh penduduk bumi, terutama kepada hamba-Nya yang saleh.

HADIST KEUTAMAAN NISFU SYA’BAN
Tentang keutamaan malam Nisfu Sya’ban ini, dimana kita dianjurkan untuk melakukan ibadah terutama untuk memohon ampun, memohon rezeki dan umur yang bermanfaat, terdapat beberapa hadis yang menurut sebagian ulama sahih. Diantaranya

Hadist pertama
Diriwayatkan dari Siti A’isyah ra berkata, :”“Suatu malam rasulullah salat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: “Hai A’isyah engkau tidak dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. “Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki” (H.R. Baihaqi) .

Hadits Kedua
Diriwayatkan dari Siti Aisyah ra bercerita bahwa pada suatu malam ia kehilangan Rasulullah SAW. Ia lalu mencari dan akhirnya menemukan beliau di Baqi’ sedang menengadahkan wajahnya ke langit. Beliau berkata: “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam nishfu Sya’ban dan mengampuni (dosa) yang banyaknya melebihi jumlah bulu domba Bani Kalb.” (HR Turmudzi, Ahmad dan Ibnu Majah)

Hadis Ketiga
Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah pada malam nishfu Sya’ban mengawasi seluruh mahluk-Nya dan mengampuni semuanya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan.” (HR Ibnu Majah)

Hadis Keempat
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib KW bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jika malam nishfu Sya’ban tiba, maka salatlah di malam hari, dan berpuasalah di siang harinya, karena sesungguhnya pada malam itu, setelah matahari terbenam, Allah turun ke langit dunia dan berkata, Adakah yang beristighfar kepada Ku, lalu Aku mengampuninya, Adakah yang memohon rezeki, lalu Aku memberinya rezeki , adakah yang tertimpa bala’, lalu Aku menyelamatkannya, demikian seterusnya hingga terbitnya fajar.” (HR Ibnu Majah).

Demikianlah keutamaan dan kelebihan malam Nishfu Sya’ban yang Insya Allah akan jatuh pada Senin tgl 26 Juli 2010 sore hingga subuh . Marilah kita manfaatkan malam yang mulia ini untuk mendekatkan diri dan memohon ampunan dan berdzikir sebanyak-banyaknya kepada Allah. SWT

KESIMPULAN
Dari paparan di atas, kita sebagai umat Islam semestinya tidak melupakan begitu saja, bahwa bulan sya’ban dalah bulan yang mulia. Sesungguhnya bulan Sya’ban merupakan bulan persiapan untuk memasuki bulan suci Ramadhan. Dari sini, umat Islam dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan mempertebal keimanan dan memanjatkan doa dengan penuh kekhusyukan.
Meski menurut para ahli hadist masih berbeda tentang malam nisfu sya’ban ini, namun demikian menurut saya sangat dianjurkan untuk meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan cara memperbanyak ibadah, shalat sunnah, memperbanyak bacaan zikir, memperbanyak baca’an shalawat, membaca al-Qur’an, bersedekah, berdo’a dan mengerjakan amal-amal salih lainnya.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. Amiin.

Kajian Keutamaan malam nisfu sya'ban 

Sumber : Pondok Habib

Wednesday, May 8, 2013

Tiga Kata Ajaib


tiga kata ajaib, tolong, maaf, terima kasih, manfaat, ucapan

Dalam kehidupan sehari - hari kadang kita meremehkan 3 kata walau kelihatannya sederhana tapi kalo kita mengucapkannya dengan tulus akan berdampak baik bagi kita semua Tiga Kata Ajaib tersebut antara lain :
1. MAAF
Jangan segan-segan untuk mengucapkan maaf. Mungkin sebagian orang merasa pantang untuk mengucapkan kata ini, karena banyak anggapan bahwa orang yang meminta maaf akan dianggap lemah, kalah, atau tidak berdaya..
Kata maaf dapat memunculkan sifat rendah hati, “Maaf” membuat kita bisa menerima keadaan diri kita.. sebagai seorang manusia biasa, yang nggak mungkin luput dari kesalahan.
“Maaf” dapat membantu kita dalam ‘proses mengampuni’ diri sendiri – yang pada akhirnya dapat membawa ke proses ‘mengampuni orang lain’. “Maaf” bukan berarti kalah, sebaliknya, maaf membuat kita belajar menghargai orang lain yang pada akhirnya akan membawa ‘kemenangan tak terduga’ pada diri kita – “Maaf” memberi pelajaran bahwa ‘kebenaran adalah hak bagi semua orang’.
Bahkan, kadangkala “maaf” dapat membuat musuh-musuh kita malu, malu akan dirinya sendiri, malu akan kesombongan dan keangkuhan yang selalu ia pegang selama ini (Apalagi kalau dia betul-betul tahu bahwa sebenarnya kesalahan ada pada dirinya sendiri).
Dan jangan takut untuk meminta maaf !!! dan jangan pernah khawatir “Maaf”-mu tidak diterima..

2. TOLONG
Setiap orang tahu, kalau kita adalah makhluk sosial – makhluk yang tak mungkin mampu hidup sendiri tanpa orang lain. So.. kata “Tolong” adalah kata yang ’sangat wajar diucapkan’.
“Tolong” membuat kita menyadari keterbatasan-keterbatasan yang ada dalam diri kita.. “tolong” membuat kita ‘lebih mampu’ menerima diri kita sendiri – secara apa adanya. “Tolong” membuat kita lebih mampu untuk melihat secara jernih.. apa yang bisa dan apa yang tidak bisa kita lakukan – dan dalam proses lebih lanjut hal ini dapat membantu kita untuk menerima setiap kekurangan yang ada dalam diri kita.
Sebagian orang merasa ‘malu’ untuk berkata “tolong” ..kenapa ? karena secara tidak sadar kita memang ‘terdidik’ untuk menjadi ‘mandiri’. Mandiri bukan berarti kita tidak membutuhkan orang lain, mandiri bukan berarti menjadi egois dan tidak pernah melibatkan orang lain. Mandiri adalah sebuah proses penemuan jati diri – dan kata “Tolong” akan sangat dibutuhkan untuk menuju kemandirian.. dan jika tidak – anda akan tersesat kepada keegoisan semata.
Jangan ragu-ragu untuk meminta tolong kepada seseorang.. So.. hargailah orang lain dengan meminta ‘tolong’ kepada dia.. Jangan malu untuk meminta tolong kepada orang lain..

3. TERIMA KASIH
Terima kasih adalah kata-kata yang mungkin sering dilupakan saat kita menerima bantuan dari orang lain. Memang, bagi sebagian orang – sangat sulit untuk mengucapkan ini. Kenapa? karena “terima kasih” membutuhkan ketulusan, “terima kasih” membutuhkan tatapan mata yang hangat, “terima kasih” membutuhkan sentuhan kasih… 
Kita harus menyadari, bahwa sebenarnya bantuan yang diberikan orang lain kepada kita – apapun itu – tidak akan bisa tergantikan. Banyak orang berusaha ‘membalas budi’ kepada orang lain.. tetapi seringkali hal ini malah melahirkan kekecewaan bahkan permusuhan.
Kenapa ? karena tidak akan ada budi yang bisa terbalaskan.. mata tidak mungkin diganti dengan mata – gigi tidak mungkin digantikan dengan gigi – dan hidup tidak akan mungkin digantikan dengan hidup !

Semoga kita dapat merealisasikan dalam kehidupan sehari - hari dan bisa lebih menghargai orang lain antara lain dengan mengucapkan maaf ketika kita salah , gak usah gengsi mengakui sebuah kesalahan , Sebagai seorang atasan kalo mau menyuruh bawahannya untuk melaksanakan perintahnya sebaiknya gunakan kata Tolong , dengan kata tersebut sang bawahan akan bekerja dengan senang hati dan akan menghasilkan yang terbaik , Setelah bantuan kita terima alangkah baiknya kita ucapkan terima kasih atas semua bantuan yang telah ia lakukan.

Thursday, February 14, 2013

Pentingnya Ucapan Salam

Sedikit ringkasan dari ceramah Habib Novel ketika di Pucangan , Kartasura , 2 Februari 2013
  • Rosulullah SAW pertama kali yang di ajarkan kepada umat manusia adalah mengucapkan salam ketika bertemu sesama muslim, dan yang paling baik adalah orang yang mengucapkan salam pertama kali.
  • Allah akan menjaga keselamatan pada manusia yang mau mengucapkan dan menjawab salam, sampai sampai dalam sholat kita di ajarkan agar mengucapkan salam dalam bacaan tasyahud, padahal Rosulullah SAW sudah dijamin selamat, Semuanya juga akan dikembalikan kepada kita dengan keselamatan yang di doakan langsung oleh Nabi Muhammad SAW.
  • Alangkah bahagianya jika kita di doakan selamat langsung oleh Nabi Muhammad SAW , tentunya kita juga harus mengucapkan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.
  • Ciri ciri kelompok yang benar antara lain : Terbuka dalam melakukan kegiatan, Kalau berkumpul pasti dalam jumlah besar, Mengucapkan salam dan menjamu dengan makanan
  • Awal kehancuran di mulai dengan hilangnya kebersamaan
  • Doa yang di awali dan di akhiri dengan sholawat pasti terkabul

Monday, February 4, 2013

Tausyiah Habib Novel di Malang 16 Januari 2013

Habib novel, ceramah, mp3, pengajian
Ada sebuah qasidah yang disusun oleh penulis maulid simtuduror Al Habib Ali bin Muhammad bin Husein Alhabsyi, satu qasidah ini jika sudah kita pegang dan amalkan dalam kehidupan maka itu sudah cukup, Al Imam Muhammad bin Anis bin alwi alhabsyi (guru habib novel alaydrus) beliau pernah menjelaskan bahwa qasidah yang diciptakan Al Habib Ali bin Muhammad bin Husein Alhabsyi, I’rifil Haq liahlil haq wasluk ma’ahum., “kenalilah hak orang-orang ahli hak dan berjalanlah kamu bersama mereka” yang dimaksud ahlul haq (diantaranya para auliya’ wa sholihin), yang disebut orang2 yg sholeh adalah orang yg dekat dg Allah S.W.T yang membaktikan hidup untuk ta’aat pada Allah S.W.T , menjauhi larangan Allah S.W.T, Orang2 yg melihat apa yg dicintai rosul, apa yang dicintai rosul, dia selalu melihat apakah didirinya sudah memiliki apa yang dicintai Rasulullah S.A.W, jika belum ada maka dia akan berusaha untuk meletakkan sesuatu yang dicintai Rasulullah S.A.W didalam dirinya, dilihat didirinya apa ada yang dibenci oleh Rasulullah S.A.W dan jika masih ada maka dia akan berusaha menghilangkan apa yang dibenci Rasulullah S.A.W dalam dirinya, karena dia ingin dekat dg Rasulullah S.A.W, para wali org sholeh bukan hanya mereka yAng berjubah, bergamis, memakai imamah, memaki libasul Taqwa karena dalam sebuah hadist disebutkan berpa banyak orang yang memakai pakaian para nabi, tapi sayang amalan-amalan nya amalan yang dimurkai oleh Allah S.W.T.pakaian ini memang sunnah dipakai org muslim (jubah, gamis, rida) tapi pakaian ini tidak bisa menjadi ukuran kewalian seseorang, tidak bisa menjadi ukuran kesholehan seseorang, tidak bisa menjadi ukuran keilmuan seseorang krn itu kita jngn tertipu oleh orang2 yang hanya sekedar berpenampilan orang sholeh, karena belum tentu dia itu wali disisi Allah S.W.T belum tentu org tersebut alim disisi Allah S.W.T, seorang yang alim disisi Allah sebagaimana disebutkan dalam wahyu Allah S.W.T INNAMA YAHSYALLOHA MIN ‘IBADIHIL ULAMA’ 
Sesungguhnya yang namanya ulama adalah orang-orang yang bisa takut kepada Allah, sesungguhnya yg takut kepada allah dari semua kalangan hambanya adalah para ulama’, oleh sebbab itu cirri utama seorang ulama’ adalah punya rasa takut yg tinggi kepada Allah S.W.T, takut pada pendengarannya, takut pada pandangannya, takut gerak langkahnya nya, takut terhadap apa yang dimakannya, dsb semuanya dia takuti secara keseluruhan , dan al ulama’ yang dimaksud salah satunya seperti Al Imam Ali Zainal Abidin r.a yang mana beliau adalah seseorang yang dalam satu hari selalu sholat sunnah 1000 rokaat, beliau berderma tanpa takut miskin, ibadah beliau sangatlah luar biasa, akan tetapi beliau selalu menangis kepada Allah agar diselamatkan dalam siksa api neraka, bahkan suatu ketika beliau sedang khusyu’ sholat, rumah beliau terbakar, semua orang-orang berbondong-bondong untuk mengingatkan beliau, tapi saat itu kobaran api terlalu besar,dan orang-orang menunggu sampai kobaran api sedikit berkurang,dan saat orang-orang masuk mereka melihat saat itu Al Imam Ali Zainal Abidin r.a sedang khusyu’ sholat sehingga mereka tidak berani mengganggu, dan saat beliau selesai sholat beliau bertanya apa yang sedang terjadi, dan orang-orang berkata apakah engkau tidak menyadari bahwa rumahmu telah terbakar wahai cucu Nabi Muhammad , maka Al Imam Ali Zainal Abidin r.a berkata “api neraka yang besar telah membuat aku tidak menyadari kobaran api yang kecil ini” ,
Imam syafii beliau dalam satu hari khatam Al Qur’an satu kali dan saat bulan Ramadhan beliau khatam Al Qur’an dua kali dalam satu hari,

Imam Abu Hanifah setiap hari khatam Al Qur’an dan bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan “sekian puluh tahun beliau sholat hanya dengan satu wudlu’’, beliau yang berjalan melewati sebuah pasar mendengar orang berkata “itulah imam yang luar biasa, imam yang tidak pernah tidur, imam yang selalu beribadah kepada Allah”, hal ini membuat Imam Abu Hanifah menangis pulang kemudian memohon ampun kepada Allah tentang segala perasangka baik yang diucapkan oleh masyarakat, karena imam abu hanifah belum mampu seperti itu, karena beliau baru bisa bangun separuh malam, belum semalam penuh maka mulai saat itu beliau membuat dirinya tidak tidur setiap malam, beribadah setiap malam hingga puluhan tahun guna mewujudkan prasangka baik para orang muslim, saat beliau meninggal beliau telah menghatamkan AlQur’an selama 7000 kali,

Imam Ahmad Bin Hambal seorang yang menghafalkan lebih dari 1 juta hadist sehingga mendapat sebutan Imam Ahlusunnah Wal Jamaah, beliau yang seperti itu masih tawadlu’ kepada imam syafi’I, beliau menimba ilmu kepada imam syafi’i dan setiap hari selepas sholat beliau selalu mendo’akan imam syafii “ Robbigh firly waliwalidayya wali Muhammad bin Idris AsSyafi’I”, beliau seorang ulama’ tapi tetap mendo’akan ulama’ yang lain, inilah yang namanya orang sholeh, inilah namannya orang yang dekat dengan Allah S.W.T
inilah beberapa contoh para Ahlu Haq, beberapa cerita ini bukan diceritakan sebagai penghias telinga, yang hanya didengar tapi tidak dicoba untuk sedikit saja ditiru, tapi cerita ini sebagai contoh agar kita belajar sedikit demi sedikit untuk meniru apa saja yang dilakukan oleh para Ahlu Haq.


Al Imam Abdullah bin Alwi Alhadad beliau adalah seorang habib yang sejak usia 4 tahun kehilangan penglihatannya, tapi hal tersebut tidak mensurutkan keniatan beliau untuk dekat dengan Allah S.W.T, setiap hari diwaktu kecil beliau pulang dari sekolah kebiasaan beliau adalah sholat sunnah 100 sampai 200 roka’at , kebiasaan yang lain adalah beliau selalu berjalan-jalan dari masjid kemasjid untuk menjalankan sholat tahiyatul masjid 2 rokaat, selesai sholat dari masjid yang satu, beliau lanjut sholat kemasjid yang lainnya, dan itu beliau lakukan terus menerus sepanjang hari untuk mendapatkan barokah dari seluruh masjid dikota beliau, dan dikota tersebut ada kurang lebih 360 masjid.
Inilah perbedaan kita dengan orang-orang yang sholeh, maka dari itu kita jangan meremehkan orang-orang yang sholeh , jangan mengatakan beliau-beliau sama dengan kita karena beliau-beliau adalah orang yang dipilih oleh Allah S.W.T, beliau semua memang sama makan dan minum seperti apa yang kita makan yang membedakan adalah sebelum makan beliau semua selalu meneliti makanan yang mereka makan sudah halal atau tidak, dan mereka makan sekedar untuk menyambung nyawa sedangkan kita makan untuk memuaskan nafsu-nafsu kita.

Jika I’rifil Haq (Ahli Haq) sudah kita ketahui maka mengertilah akan kewajiban kita kepada beliau semua, mengertilah kedudukan-kedudukan beliau, jangan sampai kita tidak menghormati kepada para Ahlu Haq, Al habib husin bin Muhammad bin tohir alhadad bagaimana beliau adalah seorang yang sholeh beliau selalu mengikuti jejak kakaknya, dimanapun kakaknya berada Al Habib Husin bin Muhammad bin Tohir AlHadad menjadi pembantu untuk kakaknya, memuliakan kakaknya, membawakan sandal kakaknya, sampai orang-orang mengira Al Habib Husin bin Muhammad bin Tohir AlHadad adalah pembantu kakaknya, padahal beliau adalah adiknya, tidak hanya itu ketika dirumah beliau tidak pernah tidur diatas ranjang, tapi beliau selalu tidur diatasa lantai karena beliau tahu kedudukan,kewalian kakaknya disisi Allah S.W.T, sehingga beliau tidak berani posisi tidur beliau lebih tinggi dari posisi tidur kakak beliau. 

Sayyidina Abdullah bin Abbas suatu ketika beliau mendengar ceramah seorang sahabat Rosulullah S.A.W ceramah, setelah sohabat tersebut selesai ceramah, Sayyidina Abdullah bin Abbas langsung pergi ketempat parkir kendaraan sohabat tersebut , mencari kendaraan, maka kemudian Sayyidina Abdullah bin Abbas mengambilkan dan menuntun kendaraan tersebut (dalam bentuk hewan) untuk sohabat, padahal Sayyidina Abdullah bin Abbas adalah Habrul Ummah ulamanya sohabat, sepupu rosul, tapi apa yang beliau lakukan yaitu menempatkan diri beliau sebagai tukang penuntun kendaraan (kuda,onta,keledai ),maka saat itu sang sohabat melihat akhlaq seorang sepupu Rasulullah S.A.W, kemudian sang sohabat lari menuju Sayyidina Abdullah bin Abbas kemudian mengatakan “jangan ambilkan tunggangan saya, biar saya ambil sendiri, bukan seperti ini wahai sepupu Rosul, engkau orang yang mulia” akan tetapi Sayyidina Abdullah bin Abbas menjawab “beginilah yang diajarkan oleh Rasulullah S.A.W, kami para ahlul bait Rasulullah S.A.W diperintahkan untuk menghormati ulama’-ulama’ kami”, kemudian sang sahabat memegang tangan Sayyidina Abdullah bin Abbas untuk menciumnya tetapi Sayyidina Abdullah bin Abbas mengatakan tidak usah mencium tangan saya dan kemudian malah beliau yang mencium tangan sang sohabat dan mengatakan beginilah seharusnya apa yang dilakukan seorang umat islam untuk memuliakan ulama’, inilah ketawadlu’an para ahlul bait Rasulullah S.A.W . Allah S.W.T dalam wahyunya mengatakan “siapa yang mengagungkan syiar Allah itu bukti ketakwaan hatinya”

Al Imam Ali bin Muhammad bin Husein Alhabsyi (Sohibul Maulid Simtuduror) beliau pernah diajak kakak beliau untuk naik dalam satu hewan tunggangan, dan Al Imam Ali bin Muhammad bin Husein Alhabsyi sebagai seorang adik mengatakan kepada kakak beliau “ Wahai kakak ku engkaulah yang duduk didepan dan saya yang dibelakang” karena beliau sebagai adik tidak ingin membelakangi kakaknya, akan tetapi kakak beliau mengatakan “Tidak wahai adikku, Engkaulah yang didepan dan aku yang dibelakang” karena sang kakak yang merupakan mufti mekkah, yang mewarisi kewalian ayahnya, menganggap maqom adiknya lebih tinggi dari pada dirinya, kemudian Habib Ali bin Muhammad bin Husein Alhabsyi menuruti permintaan kakaknya, akan tetapi dalam hati beliau menganggap dengan duduk didepan beliau adalah sebagai supir dan kakak ku adalah bosnya, Inilah akhlak, tau kedudukan setiap orang, inilah yang menyebabkan orang-orang terdahulu cepat menjadi wali karena mereka mengetahui hak setiap orang,

Hal pertama yang diperintahkan dalam syair “I’rifil Haq liahlil haq” kita harus mengerti bagaimana menempatkan diri dihadapan orang-orang yang sholeh, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, jangan dianggap para wali yang sudah meninggal tidak bisa melihat kita, tapi bahkan beliau-beliau yang sudah meninggal seperti tiada batas dengan kita, cara pandang seperti ini yang harus kita tancapkan dalam hati, kemudian “wasluk ma’ahum” kemudian ikuti mereka berjalan bersama mereka menempuh jalan ketakwaan, dimanapun mereka menempuh jalan ikutilah dibelakangnya. Untuk bisa mendapatkan kebahagiaan sejati (dikubur,dimahsyar, disyurga , memandang wajah Rasulullah S.A.W, dsb) semua tergantung bagaimana kita meneladani orang-orang sholeh tersebut.
Sungguh beruntung orang pernah melihat para wali Allah S.W.T atau melihat orang-orang yang pernah melihat para wali Allah S.W.T.

Habib Ali Bin Muhammad Bin Husein Alhabsyi ketika berusia 19 th, sebagaimana yang disebutkan dalam kalam beliau, beliau ziarah kepada Nabi Muhammad S.A.W saat itu ada ledakan cahaya dari hujroh nabawi dan muncullah sosok Nabi Muhammad S.A.W kemudian Nabi Muhammad S.A.W memberikan kabar gembira kepada beliau dan Habib Ali Bin Muhammad Bin Husein Alhabsyi melihat Nabi Muhammad S.A.W.

dalam sebuah hadist Rasulullah S.A.W mengatakan “Sungguh beruntung orang yang pernah melihat Aku (Rasulullah S.A.W) atau melihat seseorang yang pernah melihat aku (Rasulullah S.A.W) “, Ahli dhohir menafsirkan seseorang yang pernah melihat aku (Rasulullah S.A.W) adalah para shohabat dan tabi’in, akan tetapi para ahli sufi menafsirkan bahwa kata “melihat Aku (Rasulullah S.A.W)” bukanlah melihat Rasulullah S.A.W ketika masih dalam keadaan hidup saja, dan dalam hadist yang lain Rasulullah S.A.W mengatakan “ siapa yang bermimpi melihat aku (Rasulullah S.A.W), maka dia telah benar-benar melihat aku (Rasulullah S.A.W) , karena syetan tidak bisa menjelma menjadi diriku (Rasulullah S.A.W) ” dan dalam hadist yang lain Rasulullah S.A.W berkata “ siapa yang melihatku (Rasulullah S.A.W) dalam mimpinya, maka pasti dia akan melihatku (Rasulullah S.A.W) secara nyata”, perbedaan pendapat para ulama’ membuat kata “melihatku (Rasulullah S.A.W) secara nyata” ditafsirkan menjadi 3 kelompok yaitu melihat secara nyata ketika nanti disyurga, melihat secara nyata ba’dal maut, dan terakhir pendapat yang dipegang para alawiyah pawa sufiyah yaitu melihat secara nyata adalah saat ini dalam kehidupan dunia,kubur,mahsyar dan syurga. 

Inilah salah satu alasan diadakannya “Haul” yang membuat para ulama’ besar dari segala penjuru dunia menyempatkan diri untuk selalu hadir dalam kegiatan haul para wali-wali Allah S.W.T, agar para masyarakat yang hadir diacara haul melihat wajah para ulama’-ulama’ besar karena beliau-beliau sudah pernah memandang wajah para auliya’, beliau para ulama’ besar tidak mengatakan untuk melihat wajah beliau, tapi dengan kehadiran beliau mata kita telah memandang wajah beliau-beliau sehingga ini bisa menjadi perantara karena para ulama’ besar sudah pernah memandang wajah para auliya’, sehingga sungguh beruntung bagi kita yang bisa memandang wajah-wajah beliau.

Sebuah cerita nyata dalam kitab Roudoh Royahin “kumpul masyarakat untuk berdo’a karena dalam kondisi kekeringan, tapi do’a mereka tidak kunjung dikabulkan tiba-tiba datang satu orang biasa yang tidak kenal kesholihannya yang tidak dianggap juga oleh masyarakat, tapi kemudian dia berjalan dan berhenti menengadahkan kearah langit dan berkata “dengan berkah cinta-Mu kepadaku maka turunkanlah hujan”, orang yang mendengar do’a tersebut merasa keheranan dengan do’a tersebut tapi selesai do’a itu diucap hujan kemudian turun, maka saat itu orang tersebut ditanya oleh masyarakat kenapa kamu dengan percaya diri mengatakan Allah S.W.T mencintaimu, dan dia menjawab bagaimana Allah S.W.T tidak mencintaiku jika Allah S.W.T sudah mengizinkan mataku memandang Abu Yazid Al-Busthomi. orang zaman dahulu selalu yakin sangat beruntung jika sudah memandang wajah para wali. 

Dalam sohih bukhori diceritakan para tabi’in ketika akan perang selalu mencari adakah ditengah-tengah mereka orang yang pernah melihat para sohabat yang pernah melihat wajah Rasulullah S.A.W, jika ada maka para tabi’in yakin bahwa mereka akan memenangkan perang tersebut berkah adanya mata yang pernah memandang wajah Rasulullah S.A.W. 

Mata memiliki rahasia yang sangat besar, rahasianya adalah Rasulullah S.A.W dilihat oleh seseorang secara keseluruhan, dan mata Rasulullah S.A.W pernah melihat Allah S.W.T, apa yang sudah dilihat oleh bola mata Rasulullah S.A.W direkam oleh seluruh tubuh Rasulullah S.A.W dan ini adalah rahmat, dan jika ada seseorang yang dengan penuh iman melihat Rasulullah S.A.W maka orang tersebut telah mendapatkan percikan rahasia bagaimana Rasulullah S.A.W melihat Allah S.W.T dan jaminan bagi yang melihat Rasulullah S.A.W adalah syurga, dan jika ada orang yang mengatakan bahwa ada sohabat Rasulullah S.A.W yang masuk neraka maka orang tersebut adabnya sangat buruk kepada Rasulullah S.A.W. karena jika ada sahabat Rasulullah S.A.W yang tidak mendapatkan syafaat Rasulullah S.A.W bagaimana dengan kita.

Habib Ali Bin Husin Al Athos ketika ziarah ke makam sunan gunung jati bersama para jamaah, saat itu tidak semuanya bisa masuk kedalam makam, tapi kemudian beliau berkata sudah ziarahnya dari sini saja diluar saja dan beliau juga mengatakan “Demi Allah S.W.T kalau nanti aku diperintahkan oleh Allah S.W.T untuk masuk kedalam syurga, maka tidak akan kulangkahkan kakiku masuk dalam syurga sebelum aku cari kalian semua yang ikut bersamaku dan aku ajak masuk kedalam syurga”
Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki mengatakan Rasulullah S.A.W diberi 10 keindahan tapi didunia ini hanya 1 keindahan yang ditampakkan yang 9 akan diperlihatkan nanti diakhirat (9 keindahan di hijab didunia), karena jika yang 9 ini juga dibuka didunia dan manusia bisa melihat ke 10 keindahan yang dimiliki oleh Rasulullah S.A.W maka jika manusia menyayat wajahnya dengan silet pun tidak akan terasa karena terbius dengan keindahan Rasulullah S.A.W.

Wallohu’alam.......

Ijazah dari Habib Novel Alaydrus
Do’a Rasulullah S.A.W untuk menghentikan hujan “Allohumma hawalaina wa la ‘alaina”
Untuk download MP3 Tausyiah Habib Novel di Malang 16 Januari 2013 
Untuk melihat videonya silahkan berkunjung ke Youtube
di kutip dari Fan Page Majlis Maulid Wat Taklim Riyadlul Jannah

Fadhilah Sholawat Munjiyat

Fadhilah Sholawat Munjiyat

" ALLAAHUMMA SHOLLI 'ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN SHOLAATAN TUNJIINAA BIHAA MIN JAMII 'IL AHWAALI WAL AAFAATI WATAQDHI LANAA BIHAA JAMII 'ALHAAJAATI WATU THOHHIRUNAA BIHAA MIN JAMII 'ISSAYYI-AATI, WATAR FA 'UNAA BIHA 'INDAKA A'LADDAROJAATI WATUBALLIGHUNAA BIHAA AQSHOL GHOOYAATI MINJAMII 'IL KHOIROOTI FIL HAYAATI WABA'DAL MAMAATI INNAKA 'ALAA KULLI SYAI-IN QODIIR"

Artinya :
Ya Allah limpahkanlah rahmat kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw, yang dengan rahmat itu Engkau akan menyelamatkan kita dari semua keadaan yang mendebarkan dan dari semua cobaan yang dengan rahmat itu Engkau akan mendatangkan kepada kita hajat, Yang dengan rahmat itu Engkau akan membersihkan kita dari semua keburukan/kesalahan. Yang dengan rahmat itu Engkau akan mengangkat kita kepada setinggi-tinggi derajat.Yang dengan rahmat itu pula Engkau akan menyampaikan kita kepada sesempurna-sempurnanya semua maksud dari semua kebaikan pada waktu hidup dan setelah mati, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Fadlilah dan keutamaan Sholawat Munjiyah (Penyelamat) :

Sholawat Munjiyat artinya shalawat penyelamat. Sholawat ini mengandung khasiat yang sangat besar dan sudah masyhur dan sudah pernah dipraktekkan oleh Syech Musa Al Dlarir. Beliau mendapat Sholawat itu dari Nabi saw, dalam mimpinya. Pada suatu hari Syech Musa pergi naik kapal bersama orang banyak tiba-tiba ada angin yang hebat hingga kapal nyaris tenggelam karena diterpa ombak yang begitu dasyat. Para awak kapal dan penumpangnya bingung dan berfikir bagaimana supaya dapat selamat. Dalam keadaan seperti itu Syech Musa terasa ngantuk berat sampai tidak bisa ditahan hingga tertidur, dalam tidurnya Syech Musa bertemu Nabi Saw. dan diberi amalan Sholawat Munjiyat dan berharap diajarkan kepada penunpang kapal untuk membaca 1000 kali. Setelah Syech Musa terjaga dari tidurnya menceritakan hal mimpinya kepada para penumpang kapal dan mengajari Sholawat tersebut. Kemudian secara bersama membaca Sholawat Munjiyat yang diajarkan tadi, belum sampai 1000 kali, baru kira-kira 300 kali karena pertolongan Allah, angin makin lama makin reda sehingga kapal tidak tenggelam dan penumpang di beri keselamatan oleh Allaw SWT, berkat fadlilah Sholawat Munjiyat.
  • Dibaca 41 kali di saat lahirnya seorang anak ,insya Allah anak itu kelak akan jadi orang besar lagi shaleh, tatat kepada Allah dan RasulNya, patuh kepada nasehat orang tua / guru serta menjadi anak yang berguna bagi agama nusa dan bangsa.
  • Dibaca 40 kali setelah sholat fardlu ,akan dapat menghilangkan kesusahan, mempermudah semua pekerjaan dan urusan, membuka dan meluaskan rezeki, menerangkan hati, meninggikan pangkat dan derajat, dan membuka pintu kebaikan dan dapat menolak atau menghindar bencana ,musibah dalam bentuk apa pun.
  • Jika hajat anda ingin lekas di kabulkan , tapi syaratnya harus yakin banget, baca 11 kali setelah sholat fardlu dan pada tengah malamnya dirikan sholat hajat 2 rakaat, lalu baca Sholawat Munjiyat 1000 kali ( ini cara pamungkasnya biar cepat di kabulkan) ini cocok untuk hajat yang yang sangat mendesak dan urgen misalnya ingin dapat jodoh atau yang lainnya.

Wednesday, January 30, 2013

Maulidan di Keden Pedan

Oleh oleh semalam di Keden 29 Januari 2013 pengajian bersama KH Abdullah Sa'ad kurang lebihnya isinya sebagai berikut
  1. Jika ingin mendapatkan ilmu maka ketika dalam majlis harus konsentrasi, di dengarkan dengan baik, DIrasakan dalam hati dan timbulkan rasa senang , Hati bersyukur bisa menghadiri majlis agar di tambah ilmunya
  2. Permasalahan perayaan acara maulid sudah ada perbedaan sejak jaman dulu diantaranya yang tidak setuju : Ibnu Taimiyah, Imam Alfaqihani,mereka berpendapat bahwa :" Acara maulid tidak dijalankan pada zaman sahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in tetapi mereka juga tidak pernah menyatakan meniadakan atau melarang maulidan, karena dalam acara maulidan bisa memperkenalkan Nabi Muhammad SAW"
  3. Ulama yang setuju dengan di adakan acara MAULIDAN: Ibnu Hajar Al Asqolani Imam Assyuyuti, Syekh Ahmad Zain , SYekh Husein Muhammad : Satu satunya acara yang bisa membendung acara yang menimbulkan dosa / maksiat
  4. Ibnu Hajar Al Asqolani berdasarkan Hadits Bukhori Muslim " Orang yahudi yang melaksanakan puasa pada 10 Muharam untuk bersyukur karena Nabi Musa sudah di selamatkan oleh ALLAH dari kejaran Fir'aun Kemudian Rosulullah bersabda:" Kami ( umat islam ) lebih berhak berpuasa dengan tujuan bersyukur atas selamatnya nabi Musa dengan puasa tangga 9 dan 10 Muharam" dari hal tersebut maka Ibnu Hajar Al Asqolani berpendapat bahwa " Dengan mendapatkan nikmat telah terlahirnya Nabi Muhammad SAW maka dengan acara mengadakan Maulidan itu salah satu menunjukkan rasa syukurnya"
  5. Dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW merupakan rahmat yang sangat luar biasa , orang yahudi saja bersyukur dgn selamatnya nabi Musa maka umat islam harus lebih bersyukur dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW
  6. Abu Bakar As sidiq sangat senang dengan 3 hal : Memandang wajah Rosulullah, Duduk bersama Rosulullah, Memberikan hartanya kepada Rosullah
  7. Orang yang di mulyakan Nabi Muhammad SAW dan ALLAH pasti juga akan di mulyakan kedudukannya baik di dunia maupun di akherat
  8. Besar kecinya suatu masalah tergantung dengan besar kecilnya hati kita, masalah sebesar apapun jika hati kita lapang maka akan terasa kecil, begitu juga sebaliknya walau ada masalah kecil tapi hati juga kecil maka masalah akan nampak besar
  9. Kunci semua masalah akan terselesaikan jika rahmad ALLAH sudah terbuka untuk kita dengan cara : Taat kepada ALLAH dan Rosulullah, Jadi orang yang bisa menyenangkan dan membantu makhluk ALLAH, memperbanyak bacaan SHolawat
  10. Niatkan sebelum membaca Sholawat dengan : Untuk ALLAH, wujud rasa syukur kepada Rosulullah, Mendapatkan Syafaat Nabi Muhammad SAW, yang terakhir baru ungkapkan semua hajad kita., tambahkan pula dengan doa " Ya ALLAH jangan memanggil orang tua kita sebelum aku membahagiakannya"

KUrang dan lebihnya seperti itu mohon di koreksi dan di ralat jika ada tulisan saya yang salah

Wednesday, January 9, 2013

Tausyiah Habib Novel di Malang 31 Desember 2012

Habib novel, ceramah, mp3

Acara Pengajian Bersama Habib Novel Bin Muhammad Alaydrus di  Malang bersama Majlis Riyadlul Jannah 31 Desember 2012
Kisah para wali Allah

A. Kisah Bisyr Al Hafi
Bisyr Al Hafi adalah seorang wali Allah. Suatu ketika, beliau bersama murid-muridnya berjalan menyusuri pantai. Di tepian pantai itu ada pemuda-pemuda yang bergitar dan mabuk-mabukkan. Melihat pemuda-pemuda itu, murid Bisyr Al Hafi meminta agar pemuda-pemuda itu didoakan mati tenggelam di lautan, karena orang-orang seperti mereka dapat mendatangkan musibah. Kemudian Bisyr Al Hafi berdoa,”Ya Allah, sebagaimana kau bahagiakan mereka di dunia, bahagiakan mereka di akhirat”. Seketika setelah itu para pemuda yang bergitar menghancurkan gitarnya dan para pemuda yang minum minuman keras membuang minumannya. Mereka mendatangi wali Allah Bisyr Al Hafi untuk mengatakan bahwa mereka ingin bertobat dan mereka ingin dibimbing oleh Bisyr Al Hafi.
Ketika melihat sang guru mendoakan para pemuda yang bermaksiat, murid Bisyr Al Hafi bertanya,"mengapa engkau mendoakan mereka seperti itu?", kemudian sang guru (Bisyr Al Hafi) menjawab,"mereka adalah umat nabi Muhammad, mereka mengucapkan syahadat, mereka takut neraka, dan mereka juga merindukan surga. Jika aku doakan mereka mati tenggelam di laut, berarti aku mendoakan seorang muslim mati dalam keadaan su'ul khotimah.

B. Kisah Habib Ali bin Husein Alattas
Saat ke makam gunungjati bersama rombongan yang terdiri dari bermacam-macam orang, di belakang habib Ali terjadi keributan antara anggota rombongan dan penjaga makam. Ternyata keributan itu disebabkan oleh aturan yang melarang selain habaib untuk masuk ke dalam makam. Kemudian habib Ali bertanya apa masalahnya, dan setelah mengetahui apa masalahnya, beliau meminta agar tidak usah memusingkan masalah ini. Kemudian habib Ali duduk dan berkata pada anggota rombongan,"nanti ketika pintu surga dibuka dan aku akan masuk ke dalamnya, aku tidak akan melangkah sebelum kalian masuk, mari kita duduk dan tahlil disini.

Dari dua cerita wali Allah di atas, terlihat jelas bahwa wai Allah mencerminkan sikap rahmatan lil 'alamin yang juga dicontohkan oleh Rosulullah SAW. Karena tidak mungkin juga Allah mengutus seorang wali yang memiliki sikap bengis dan kejam.

[2] Ciri-ciri orang yang mengikuti jejak Rosulullah SAW.
Orang yang mengikuti jejak Rosulullah memiliki ciri-ciri
- Lebih senang membicarakan surga
- Lebih senang husnudzon daripada su'udzon
Dua hal ini juga dicontohkan langsung oleh Rosululullah SAW. Suatu hari Rosulullah SAW pernah bersabda yang artinya,"seluruh umatku akan masuk surga, kecuali yang tidak mau masuk surga", kemudian sahabat bertanya,"siapa yang tidak mau masuk surga tersebut ya Rosulullah?". Rosulullah menjawab,"siapa yang taat padaku, dia akan masuk surga, dan siapa yang tidak taat padaku, berarti dia tidak mau masuk surga".
Rosulullah tidak menyebutkan bahwa orang yang tidak taat padanya akan masuk neraka, tetapi Rosulullah mengataka orang seperti itu tidak mau masuk surga. Karena Rosulullah tidak senang menyebut neraka dan lebih senang membicarakan surga.

[3] Mengenai banyaknya kasus perceraian di akhir zaman.

Dalam hadits riwayat Imam Muslim, Rosulullah bersabda yang artinya,"sungguh iblis membangun kerajaannya di atas lautan, darisana dikirim bala tentara iblis untuk menggoda jin dan manusia. Dan siapa yang berhasil menggoda manusia, maka ia akan mendapat tempat untuk bersanding di samping iblis".
Ketika iblis berkata pada bala tentaranya,"apa yang telah kalian lakukan?", bala tentaranya menjawab,"aku menggoda manusia hingga mereka meniup terompet2 mereka di tahun baru", iblis menjawab,"kamu belum melakukan apa-apa". Kemudian datanglah bala tentara iblis yang lain melaporkan bahwa mereka telah menggoda manusia hingga mereka membunuh, mabuk-mabukan dan menggunakn narkoba, tetapi iblis tetap berkata bahwa mereka belum melakukan apa-apa. Kemudian datanglah bala tentara iblis yag terakhir yang melaporkan bahwa ia telah menggoda manusia hingga ia manusia itu menceraikan istrinya. Mendengar laporan ini, iblis berkata,"kemarilah, tempatmu disini". Ternyata tipu daya iblis yang paling besar adalah bisa membuat seorang suami menceraikan istrinya.

[4] Kisah tipu daya iblis yang pasangan suami-istri
Dalam kitabnya, seorang sufi besar yaitu syeikh Ali Al-Khowwash menceritakan bahwa dulu dia memiliki tetangga seorang hakim di pengadilan agama. Tetangganya itu memiliki istri yang sangat ia cintai, hingga iblis putus asa menggodanya (untuk menceraikan istrinya). Kemudian iblis mengutus anak buahnya yang menjelma mendadi wanita tua yang sholihah. Wanita iblis ini berkata pada hakim bahwa ia ingin menumpang tinggal di rumahnya. Si hakim menyetujui karen aia melihat wanita ini adalah wanita sholihah. Lama-kelamaan hakim dan istrinya ini percaya pada kata-kata wanita ini. Di mata mereka, wanita ini adalah wanita sholihaha yang berpuasa di siang hari dan beribadah di malam hari. Suatu hari, ketika si hakim pergi, wanita iblis berkata pada istri hakim,"putriku,kau sudah aku anggap seperti anakku sendiri,jika kamu senang, aku juga turut senang, dan jika kamu bersedih, aku juga turut bersedih Aku ingin menyampaikan sesuatu", kemudian istri hakim bertanya,"ada apa?". Wanita iblis menjawab,"sesungguhnya jika suamimu pergi untuk beberapa hari, dia pergi ke rumah istri barunya. Aku akan memberinya jampi-jampi agar dia menceraikan istri barunya dan hanya mencintaimu. Aku butuh rambut jenggot suamimu yang masih baru. dan setelah itu,dia akan menceraikan istri barunya". Kemudian di depan si hakim wanita iblis ini berkata bahwa istri si hakim akan menikah lagi, dan hakim dianggap sebagai penghalang dan istri hakim akan membunuhnya (hakim). wanita iblis berkata,"jika kamu tidak percaya, nanti malam pura-puralah kamu tidur, dan kamu akan melihat istrimu berusaha membunuhmu".
Ketika malam tiba, si hakim pura-pura tidur. Kemudian si istri hakim mengambil pisau yang akan ia gunakan untuk memotong jenggot suaminya. Saat itu si hakim membuka mata dan memukul istrinya dengan palu yang telah ia siapkan. Si istri seketika meninggal dunia. Kemudian si hakim dihukum pancung karena perbuatannya.
Beginilah tipu daya iblis yang senantiasa ingin menjerumuskan manusia.

[5] Kisah suami Zulaikha, suami teladan yang diceritakan dalam Alquran.
Dalam kisah nabi Yusuf diceritakan bahwa nabi Yusuf dari kecil hingga dewasa diasuh oleh Zulaikha dan suaminya. Ketika nabi Yusuf sudah dewasa, Zulaikha terpesona dengan ketampanannya dan berusaha menggoda nabi Yusuf. Ketika suaminya tidak ada di rmah, Zulaikha menutup semua pintu dan mulai menggoda nabi Yusuf, nabi Yusuf lari menghindar. dan ketika berada di pintu terakhir, Zulaikha menarik baju bagian belakang milik nabi Yusuf. Bersamaan dengan itu suami Zulaikha datang membuka pintu. Melihat suaminya datang, Zulaikha segera merubah rencana dan mengatakan pada suaminya bahwa nabi Yusuf menggodanya. Seketika nabi Yusuf berkata tidak, dia tidak menggoda Zulaikha,melainkan Zulaikha yang menggodanya. Suami Zulaikha tidak serta merta menyalahkan nabi Yusuf, dia bertanya pada orang yang lebih alim kala itu. Dan orang yang alim itu memberi saran,jika baju nabi Yusuf yang robek bagian depan, berarti nabi Yusuf yang menggoda Zulaikha, jika baju nabi Yusuf yang robek bagian belakang, berarti Zulaikha yang menggoda nabi Yusuf. Suami Zulaikha tahu bahwa yang robekadalah baju nabi Yusuf bagian belakang. Maka dengan sangat bijaksana suami Zulaikha berkata,"Yusuf,lupakan masalah ini, tolong sembunyikan aib istriku".
Disaat ia seharusnya marah, suami Zulaikha mengajak istrinya ke jalan yang benar. Suami Zulaikha berkata,"istriku, istighfarlah, minta ampun dan bertaubatlah pada Allah".
Inilah sifat suami qur'ani yang bisa memperlakukan istrinya dengan baik.

Mengenai berbuat baik pada istri ini, Rosulullah SAW pernah bersabda yang artinya,"aku wasiatkan pada kalian, berbuat baiklah pada istri kalian karena mereka diciptakan dari tulang rusuk kalian".

Untuk mendownload mp3nya silahkan ke Ceramah Habib Novel di Malang 31 Desember 2012 Untuk melihat videonya silahkan kunjungi di Youtube Ceramah Habib Novel

Artikel ini saya copas dari Fan Pages Majelis Ta'lim Riyadlul Jannah

Sunday, December 30, 2012

Rutinan Jannur Bersama KH Abdul Karim Ahmad Musthofa

Maulid nabi, rosulullah, ceramah gus karim

Dzikir dan Sholawat ini di laksanakan pada hari Sabtu, 29 Desember 2012 di Bonyokan Jatinom dalam rangka Rutinan JANNUR ( Jamaah Nderek Nabi Ugi Rosul ) dan Haul Kyai Ageng Gribig Jatinom, alhamdulillah berjalan dengan lancar tidak ada halangan suatu apapun walau kondisi jalan sangat ramai karena lokasinya dekat dengan acara Saparan, jamaah yang datang juga banyak baik yang jalan kaki naik motor, maupun yang rela naik colt bak terbuka ( brondol ) dari Ceramah KH Abdul Karim Ahmad Musthofa dapat di ambil beberapa point penting diantaranya mari kita Melaksanakan acara Maulid dengan berbagai macam cara hal yang positif misal dengan Pembacaan sholawat, mengadakan pengajian, serta apapun yang sebagai bukti cinta kita kepada Rosulullah walaupun ada sedikit orang yang berkata acara Maulidan, Yasinan, Dzikiran , Sholawatan tidak boleh  melaksanakan acara tersebut jawab saja dengan " LALU AKU HARUS BAGAIMANA"

Ada beberapa kabar gembira bagi orang yang mau melaksanakan sholawat dan acara maulid diantaranya:
  • Orang yang memperhatikan dan melaksanakan acara maulid termasuk salah satu cara mendekatkan diri kepada ALLAH
  • Siapa yang mau memuliakan kelahiran Rosulullah dengan  berbagai cara ( Pembacaan alquran 30 juz, pembacaan sholawat, santunan anak yatim berpuasa) serta amalan lain yang di niatkan untuk memuliakan kelahiran Rolulullah maka Niscaya Rosulullah berjanji akan mendapatkan syafaat kelak di akherat
  • Barang siapa mengeluarkan uang 1 dirham untuk menyelenggarakan acara maulid orang tersebut akan menemani Abu Bakar Assidiq kelak di akherat
  • Barang siapa yang melaksanakan acara maulid nabi berarti ikut menghidupkan syiar islam
  • Rosulullah rindu kepada umatnya yang mencintai Rosulullah padahal mereka belum pernah bertemu kepadaku ( Rosulullah )

Saturday, December 29, 2012

Orang Sholeh Mempersiapkan Bekal Untuk Akherat

Habib Novel, ceramah, pengajian, rutinan

Sedikit ringkasan yang dapat di ambil hikmah dari Rutinan Ar Raudhah bersama Habib Novel pada tanggal 28 Desember 2012 yang membahas tentang orang sholeh diantaranya :
  1. Taufiq adalah kemampuan melaksanakan petunjuk
  2. Orang sholeh mendapatkan taufiq untuk selalu taat kepada ALLAH
  3. Orang yang di beri petunjuk bahwa sholat berjamaah mendapatkan pahala 27 derajat tetapi masih banyak juga yang hanya melaksanakan sholat sendiri sehingga cuma mendapatkan pahal 1 derajat saja
  4. Jika ingin mendapatkan taufiq kita harus berkumpul dengan orang yang mendapatkan taufiq pula
  5. Orang yang mendapatkan taufiq akan mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal ( akherat )
  6. Abu Dardak kedatangan tamu dan ketika malam tiba tamu tersebut tidak di beri selimut padahal cuaca ketika itu dingin, kemudian sang tamu menanyakan hal tersebut kepada Abu Dardak kenapa keadaan seperti ini tidur tidak menggunakan selimut, kemudian Abu Dardak pun menjawab bahwa saya mempersiapkan rumah ke dua saya yang akan kekal selamanya ( akherat ) dan mempersiapkan bekal tanpa harus menunda
  7. Orang sholeh selalu waspada terhadap hal hal yang mendatangkan murkanya ALLAH, apapun keadaannya orang sholeh tetap taat pada ALLAH
  8. Ayat pertama yang di sampaikan Imam Nawawi dalam kitabnya Riyadhus Sholihin tentang hakekat penciptaan makhluk " Tidaklah AKU ( ALLAH ) menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada KU" 
  9. Barang yang bisa memalingkan dari amalan akherat tetapi malah menjadi urusan dunia misalnya ketika dalam suatu majlis Dzikir dan Sholawat malah bermain Hp dan smsan, ketika mau sholat Hp malah dibawa dan tidak dimatikan sehingga bisa menganggu kekhusyukan dalam sholat, menyalakan TV sambil membaca Al Quran
  10. Dalam urusan dunia apabila ada sedikit saja kerusakan misal motor langsung di bawa ke bengkel dan di perbaiki , tetapi jika dalam urusan akherat malah jarang di perhatikan bahkan tidak memperbaiki misal adanya penyakit hati
  11. Dunia seperti lautan jika ingin selamat ke pulau seberang ( akherat ) kita harus mempersiapkan sebuah perahu yaitu amal sholeh
Adab Berziarah Kubur:
  1. Ketika masuk ke pemakaman harus menutup aurat dan tidak berdandan
  2. Mengucapkan salam
  3. Masuk dengan merendahkan diri
  4. Jangan sampai menginjak makam dan melangkahi makam
  5. Menghadap ke kubur serta membelakangi kiblat ( menghadap ke wajah yang berada di kubur)
  6. Salam khusus buat yang berada di dalam kubur
  7. Mendoakan yang berada di dalam kubur
Mohon maaf untuk mp3 dan videonya belum bisa update soalnya koneksi lagi gak bersahabat.